Kamis, 22 Oktober 2009

BAB I
PENDAHULUAN

Promosi kesehatan adalah upaya pemberdayaan masyarakat yang mampu memecahkan dan meningkatkan kesehatan. Dalam makalah ini dibahas mengenai masalah dan kebutuhan yang diperlukan WUS (Wanita Usia Subur) dan PUS (Pasangan Usia Subur). Yang merupakan masalah dari WUS yaitu mengenai keadaan organ kelamin, untuk itu diberikan promosi kesehatan mengenai alat kelamin dan penyakit yang sering mengganggu akibat infeksi. Selain itu, WUS juga harus diberi penyuluhan mengenai penyakit menular seksual (PMS) agar WUS tidak melakukan tindakan atau perbuatan berganti-ganti pasangan dalam usianya yang subur.
PUS juga memerlukan penyuluhan/promosi kesehatan dalam kehidupannya. Dalam hal ini petugas kesehatan harus mempromosikan KB (Keluarga Berencana) bagi pasangan ini. Tujuannya untuk membatasi kelahiran anak karena mereka subur, tidak memiliki kelainan sehingga mudah memperoleh anak/keturunan. Disini akan dibahas mengenai alat kontrasepsi, tapi salah satunya vasektomi dan tubektomi. Memang banyak alat kontrasepsi lainnya, namun vasektomi dan tubektomi merupakan kontap (kontrasepsi mantap) jika sudah matang dalam memilih pilihannya. Dengan penyuluhan KB diharapkan angka kelahiran dan di Indonesia menurun dan tingkat kesejahteraan hidup meningkat.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Promosi Kesehatan Pasangan Usia Subur (PUS)
1. Pengertian
Pasangan usia subur (PUS) berkisar antara usia 20-45 tahun dimana pasangan (laki-laki dan perempuan) sudah cukup matang dalam segala hal terlebih organ reproduksinya sudah berfungsi dengan baik.
Pada masa ini pasangan usia subur harus dapat menjaga dan memanfaatkan kesehatan reproduksinya yaitu menekan angka kelahiran dengan metode keluarga berencana, sehingga jumlah dan interval kehamilan dapat diperhitungkan untuk meningkatkan kualitas reproduksi dan kualitas generasi yang akan datang.

2. Masalah dan Kebutuhan yang dialami Pasangan Usia Subur (PUS)
Dalam menjalani kehidupan berkeluarga, PUS sangat mudah dalam memperoleh keturunan dikarenakan keadan kedua pasangan tersebut normal, hal inilah yang menjadi masalah bagi PUS yaitu perlunya pengaturan fertilitas (kesuburan), perawatan kehamilan dan persalinan aman. Dalam penyelesaian maslah tersebut diperlukan tindakan dari tenaga kesehatan dalam penyampaian penggunaan alat kontrasepsi rasional untuk menekan angka kelahiran dan mengatur kesuburan dari pasangan tersebut. Maka dari itu, petugas kesehatan harus memberikan penyuluhan yang benar dan dimengerti masyarakat luas.

3. Promosi Kesehatan yang diberikan pada PUS
Dewasa ini, pemerintah melakukan suatu program dalam penekanan angka kelahiran karena kebanyakan penduduk Indonesia melakukan pernikahan dalam usia dini dimana masih banyak kesempatan/masa dimana keduanya memiliki keturunan yang banyak. Untuk itu, perlunya penyuluhan dalam mengatasi masalah tersebut dengan memperkenalkan alat kontrasepsi pada pasangan tersebut.
Para petugas kesehatan harus memberi penyuluhan KB dan alat kontrasepsi, dan harus menyerahkan pilihan pada kedua pasangan tersebut untuk memilih apa yang sesuai dengan keinginannya. Salah satu alat kontrasepsi baik untuk pria dan wanita yaitu tubektomi untuk wanita dan vasektomi untuk pria.

v Vasektomi
Merupakan kontap atau metode operasi pria (MOP) dengan jalan memotong vas deferen sehingga saat ejakulasi tidak terdapat spermatozoa dalam cairan sperma. Setelah menjalani vasektomi tidak segera akan steril, tetapi memerlukan sekitar 12 kali ejakulasi, baru sama sekali bebas dri spermatozoa. Oleh karena itu, diperlukan penggunaan kondom selama 12 kali sehingga bebas untuk melakukan hubungan seks.

v Tubektomi
Ialah tindkaan yang dilakukan pada kedua tuba fallopii wanita.
Keuntungan tubektomi adalah :
1) Motivasi hanya dilakukan satu kali saja
2) Efektivitas hampir 100%
3) Tidak mempengaruhi libido seksualis
4) Kegagalan dari pihak pasien tidak ada.
Pelaksanaan tubektomi dilakukan pasca keguguran, pasca persalinan dilakukan 48 jam setelah melahirkan karena belum dipersulit dengan edema tuba, infeksi, dan alat-alat genital belum menciut.
Tubektomi dan vasektomi dilakukan pada pasangan yang tidak menginginkan anak lagi yang sering disebut kontap (kontrasepsi mantap). Dalam pemilihan kontrasepsi ini, diperlukan pemikiran yang matang.

B. Promosi Kesehatan pada Wanita Usia Subur (WUS)
Secara manual yang dimaksud wanita usia subur (WUS) adalah wanita yang keadaan organ reproduksinya berfungsi dengan baik antara umur 20-45 tahun. Dimanan dalam masa ini petugas kesehatan harus memberikan penyuluhan pada WUS yang memiliki masalah mengenai organ reproduksinya. Petugas kesehatan harus menjelaskan mengenai personal hyegiene yaitu pemeliharaan keadaan alat kelaminnya dengan rajin membersihkan dan penyakit yang dapat diakibatkan dari hal tersebut. WUS dianjurkan untuk menjaga diri agar tidak terikut menjadi WTS (Wanita Tunasusila).

1. Penyakit Menular Seksual
a. Penyakit Gonore
Penyakit ini paling banyak dijumpai dalam jajaran penyakit hubungan seksual. Penyebabnya Neisseria gonorhoe, tergolong bakteri diplokokus berbentuk buah kopi. Gejala umumnya adalah rasa gatal dan patas diujung kemaluan, rasa sakit saat kencing dan banyak kencing, diikuti pengeluaran nanah diujung kemaluan dapat bercampur darah. Upaya preventif agar tidak terinfeksi gonore pada mata dilakukan pemberian tetes mata nitras argentil 1% secara crede dan tetes mata dengan antibiotika langsung pada BBL.

b. Penyakit Sifilis
Penyebab : Treponema pallidum, ordo spirochaetaeas
Yang diserang adalah semua organ tubuh, sehingga cairan tubuh mengandung treponema pallidum. Masa inkubasinya sekitar 10-90 hari dan rata-rata 3 minggu. Timbul perlukaan di tempat infeksi masuk, terdapat infiltrat (pemadatan karena serbuan sel darah putih) yang mengelupas dan menimbulkan perlukaan dengan permukaan bersih, berwarna merah dan kulit terdapat tanda radang membengkak dan nyeri. Upaya preventif yaitu melakukan pemeriksaan sebelum pernikahan.

c. Trikomoniasis
Adalah infeksi genitalia yang disebabkan oleh trichomonas vaginalis. Trikomoniasis pada wanita pada keadaan akut terdapat gejala lendir vagina banyak dan berbusa, bentuk putih bercampur nanah terdapat perubahan warna (kekuningan, kuning-hijau), bebau khas. Adanya iritasi pada lipatan paha dan kulit sekitar kemaluan sampai liang dubur. Dengan penyampaian penyakit pada alat kelamin maka WUS akan menjaga kebersihan kelaminnya dan tidak melakukan hubungan seks bebas.
2. Pemeriksaan Alat Kelamin
Wanita Usia Subur (WUS) harus melakukan pemeriksaan kesehatan walaupun ia memiliki siklus haid/menstruasi yang teratur. Hal ini bukan tanda bahwa wanita itu subur. Artinya WUS harus sehat bebas dari penyakit kelamin. Sebelum menikah WUS sebaiknya melakukan pemeriksaan kesehatan agar mengetahui kondisi organ reproduksinya apakah berfungsi dengan baik.
Dengan mengadakan pemeriksaan kesehatan maka akan mencegah penyakit alat kelamin.
Alat kelamin wanita sangat berhubungan dengan dunia luar yang melalui liang senggama, saluran mulut rahim, rongga/ruang rahim. Saluran telur (tuba falopi) yang bermuara dalam ruang perut. Karena adanya hubungan yang langsung ini infeksi alat kelamin wanita disebabkan oleh hubungan seks yang tidak sehat, sehingga infeksi bagian luarnya berkelanjutan dapat berjalan menuju ruang perut dalam bentuk infeksi selaput dinding perut atau disebut juga peritonitis.
Sistem pertahanan dari alat kelamin wanita yang cukup baik yaitu : dari sistem asam, biasanya sistem pertahanan yang lainnya dengan cara pengeluaran lendir yang selalu mengalir ke luar yang menyebabkan bakteri yang dibuang dalam bentuk menstruasi, sistem pertahanan ini sangat lemah, sehingga infeksinya sering dibendung dan pasti menjalar ke segala arah yang menimbulkan infeksi mendadak dan menahun. Contoh : Penyakit alat kelamin pada wanita adalah : “LEUKOREA”. Leukorea adalah keputihan, yaitu : cairan putih yang keluar dari liang senggama secara berlebihan.
Leukorea dibedakan atas 2 bagian yaitu :
- Leukorea Normal (Fisiologis)
Terjadi pada fase sekresi antara hari ke 10-16 menstruasi melalui rangsangan seksual.
- Leukorea abnormal
Terjadi pada semua infeksi alat kelamin yaitu : infeksi bibit kemaluan, liang senggama, mulut rahim dan jaringan penyangganya, dan infeksi penyakit hubungan kelamin.
Leukorea bukanlah penyakit, tetapi gejala penyakit yang dapat ditentukan dengan pertanyaan.
Yaitu :
- Kapan mulainya?
- Berapa jumlahnya?
- Serta gejalapenertanya?
Penanganannya perlu dilakukan pemeriksaan, seperti : pemeriksaan fisik umum dan khusus, pemeriksaan laboratorium/rutin.
Pemeriksaan mencakup : Pewarnaan gram, preparat basah, preparat KOH, kultur/pembiakan, dan Pap Smear.
Dibawah ini beberapa penyakit infeksi kelamin wanita yang umum terjadi dijelaskan dibawah ini yaitu :




- Infeksi Kelenjar Bartholini
Disebabkan oleh bakteri gonorea, siapolokokus atau streptococus. Pada pemeriksaannya dijumpai pembengkakan kelenjar, padat, berwarna merah, nyeri, dan panas.
Pengobatan : dengan insisi รจ yang mengurangi pembengkakan mengeluarkan isinya.
Therapy : antibiotik dosis tepat
Yang menahun dalam letak kista bartholini yang diperlukan tindakan marsupialisasi.
Yaitu operasi menyembuhkan kista dalam membuka, mengeluarkan isi dan menjahit tepi kista di irisan kulit.

- Kondiloma Akuminata
Berbentuk seperti bunga kol dengan jaringan ikat dan tertutup oleh epitel hiperkeratasis (Penebalan lapisan tanduk). Penyebabnya semacam virus sejenis virus veruka. Pengobatan pada infeksi ini dengan tungtura podofilin 10%.

- Infeksi Vagina (Vulvitis) Diabetika.
Terdapat pembengkakan vagina, merah dan terutama ada rasa gatal yang hebat, dapat disertai dengan rasa nyeri. Ini terjadi pada mereka yang berbadan relatif gemuk. Pada pemerikaan laboratorium dijumpai penyakit kencing manis.


- Infeksi Liang Senggama (Vaginitis)
Di dalam liang senggama hidup bersama saling menguntungkan beberapa bakteri yaitu hasil doderlain, stafilokokus dan streptokokus, serta hasil difteroid. Secara umum gejala infeksi liang senggama (vaginitis) disertai infeksi bagian luar (bibir), pengeluaran cairan (bernanah), terasa gatal dan terbakar. Pada permukaan kemaluan luar tampak merah membengkak dan terdapat bintik-bintik merah.

- Infeksi Spesifik Vagina
Beberapa infeksi khusus pada vagina meliputi trikomonas vaginalis, dengan gejala leukorea encer sampai kental, berbau khas, gatal dan rasa terbakar. Disebabkan oleh bakteri trikomonas vaginalis. Cara utama penularannya adalah dengan hubungan seksual. Infeksi vagina lain adalah kandidiasis vaginitis, yang disebabkan oleh jamur candida albican. Leukorea berwarna putih, bergumpal dan sangat gatal, dan pengobatan dengan mycostatin sebagai obat minum atau dimasukkan kedalam liang senggama.

- Servisitis Akuta
Infeksi ni dapat disebabkan oleh gonokokus (gonorea) sebagai salah satu infeksi hubungan seksual. Gejalanya pembengkakan mulut rahim, pengeluaran cairan bernanah, adanya rasa nyeri yang dapat menjalar kesekitarnya.



- Servisitis Menahun (Kronis)
Infeksi ini terjadi pada sebagian besar wanita yang telah melahirkan. Terdapatnya perlukaan ringan pada mulut rahim. Gejalanya leokorea yang kadang sedikit atau banyak dan dapat terjadi perdarahan (saat berhubungan seks).

- Penyakit Radang Panggul
Infeksi ini sebagian berkaitan dengan infeksi alat kelamin bagian atas. Bentuk infeksi ini dapat mendadak (akut) dengan gejala nyeri dibagian perut bawah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penulis menyimpulkan bawah :
1. Promosi kesehatan yang sangat penting bagi PUS adalah program KB untuk menekan angka kelahiran.
2. Penyakit menular seksual banyak dialami oleh wanita usia subur yang melakukan hubungan seks bebas, maka perlu penyuluhan dalam menjaga keadaan diri.
3. WUS yang tidak memeriksakan keadaan dirinya akan sering terserang penyakit kelamin misalnya : Leukorea (Keputihan yang Abnormal).

B. Saran
1. Diharapkan dengan program KB yang telah dipromosikan dapat menekan angka kelahiran dan meningkatkan kesejahteraan orang.
2. WUS harus rajin memeriksakan kesehatan dan menjaga kebersihan diri mencegah penyakit alat kelamin.
3. WUS harus menjaga diri untuk tidak berganti pasangan mencegah penyakit menular seksual.
Posted by Adhe at 4/25/2009 04:38:00 PM  
Labels: Kesehatan 


KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA 
Kondisi Umum
Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Hal ini diselenggarakan melalui pengendalian kuantitas penduduk dan peningkatan kualitas insani dan Sumber Daya Manusia. 
Kondisi kesejahteraan rakyat seperti kependudukan, jumlah penduduk Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2003 sebanyak 579.499 jiwa dengan luas wilayah 1.900,22 Km2 per segi. Jumlah penduduk tersebut bertambah menjadi 5.883.263 jiwa pada tahun 2004, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 132.188 jiwa.
Permasalahan Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berkualitas adalah masih tingginya laju pertumbuhan penduduk dan jumlah penduduk, masih tingginya tingkat kelahiran penduduk hal ini ditandai dengan tingginya angka kelahiran total Total Fertility Rate (TFR) pada tahun 2006 sebesar 2,78 rata-rata kelahiran Pasangan Usia Subur dan diharapkan pada tahun 2010 sebesar 2,38 rata-rata kelahiran Pasangan Usia Subur. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran pasangan usia subur dan remaja tentang hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi, rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB, masih kurang maksimalnya akses dan kualitas pelayanan KB, masih lemahnya ekonomi dan ketahanan keluarga, belum serasinya kebijakan kependudukan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, dan belum tertatanya administrasi kependudukan dalam rangka membangun sistem pembangunan, pemerintahan, dan pembangunan yang berkelanjutan.
Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan bidang Kependudukan dan Keluarga Berkualitas tahun 2006-2010 adalah 1) Terlayaninya peserta KB aktif Pasangan Usia Subur (PUS) dan KB Baru dan peningkatan peserta KB pria; 2) Meningkatnya penggunan metode kontrasepsi yang efektif serta efisien; 3) Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh-kembang anak; 4) Meningkatnya jumlah keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera-I yang aktif dalam usaha ekonomi produktif; 5) Meningkatnya keserasian kebijakan kependudukan dalam rangka peningkatan kualitas, pengendalian pertumbuhan dan kuantitas, pengarahan mobilitas dan persebaran penduduk yang serasi dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan; 
Arah Kebijakan
Pembangunan Bidang Kependudukan dan Keluarga Berkualitas Tahun 2006-2010, diarahkan pada upaya-upaya Peningkatan kualitas penduduk melalui pengendalian kelahiran dan memperkecil angka kematian; meningkatkan kualitas pelayanan KB terutama bagi keluarga miskin dan rentan, termasuk keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I; meningkatkan pemberdayaan dan ketahanan keluarga dalam kemampuan pengasuhan dan penumbuhkembangan anak serta peningkatan pendapatan keluarga; meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja dalam rangka menyiapkan kehidupan berkeluarga yang lebih baik, pendewasaan usia perkawinan; dan penguatan kelembagaan dan jaringan KB dalam meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam upaya pengendalian jumlah dan laju pertumbuhan penduduk; Menata kebijakan persebaran dan mobilitas penduduk secara lebih seimbang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan, melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi wilayah dan penataan kebijakan administrasi kependudukan.
Pengelolaan administrasi kependudukan diarahkan pada tersedianya data base kependudukan (Bank Data Kependudukan) demi terwujudnya pelayanan prima dengan pelaksanaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK). Dengan pelaksanaan SIAK pelayanan dokumen kependudukan (KTP, Kartu Keluarga dan Akta Catatan Sipil) dapat dilakukan dengan cepat, tepat, akurat dan terjangkau.
Program Pembangunan
Program Keluarga Berencana (KB)
Program ini bertujuan untuk memenuhi permintaan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas serta mengendalikan angka kelahiran yang pada akhirnya meningkatkan kualitas penduduk dan mewujudkan keluarga-keluarga kecil berkualitas
Sasaran program adalah
• Menurunnya pasangan usia subur (PUS) yang ingin berKB namun tidak melayani KB (unmetneed)
• Meningkatnya partisipasi laki-laki untuk berKB
• Menurunnya angka kelahiran total (TFR)
Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut:
• Pembinaan advokasi serta KIE KB 
• Pembinaan kualitas pelayanan kontrasepsi 
• Pembinaan jaminan dan perlindungan pemakai kontrasepsi
• Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak
• Melakukan promosi dan pemenuhan hak-hak dan kesehatan reproduksi
Program Penguatan Pelembagaan Keluarga Kecil Berkualitas
Program ini bertujuan meningkatkan kemandirian dan sekaligus meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan KB dan kesehatan reproduksi
Sasaran program adalah
• Meningkatnya jumlah Peserta KB aktif
• Meningkatnya cakupan dan mutu pelayanan KB dan pelayanan reproduksi yang diselenggarakan oleh masyarakat
• Meningkatnya jumlah lembaga yang secara mandiri menyelenggarakan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi
Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut:
• Melakukan pelatihan dan bimbingan pelayanan dan manajemen, kesehatan reproduksi bagi institusi, dan lembaga berbasiskan masyarakat yang menyelenggarakan pelayanan KB
• Menyediakan dan menyelenggarakan pertukaran informasi tentang KB serta kesehatan reproduksi
• Melakukan promosi kemandirian berKB
Program Kesehatan Reproduksi Remaja
Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap dan perilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, guna meningkatkan derajat kesehatan reproduksinya dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga dalam mendukung upaya peningkatan kualitas generasi mendatang
Sasaran program adalah meningkatnya pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja.
Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut:
Pengembangan kebijakan pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja
Penyelenggaraan promosi kesehatan reproduksi remaja, pemahaman dan pencegahan HIV/AIDS dan bahaya NAPZA, termasuk advokasi, komunikasi, informasi, dan edukasi, dan konseling bagi masyarakat, keluarga dan remaja
Penguatan dukungan dan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan program kesehatan reproduksi remaja yang mandiri
Program Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga
Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan membina ketahanan keluarga dengan memperhatikan kelompok usia penduduk berdasarkan siklus hidup, yaitu mulai dari janin dalam kandungan sampai lanjut usia, dalam rangka membangun keluarga kecil yang berkualitas
Sasaran program adalah meningkatnya kemampuan keluarga dalam rangka mesenjahterakan dan mendidik anak-anak sampai dengan dewasa .
Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut:
• Pengembangan dan memantapkan ketahanan dan pemberdayaan keluarga
• Penyelenggaraan advokasi, KIE, dan konseling bagi keluarga tentang pola asuh dan tumbuh kembang anak, kebutuhan dasar keluarga, akses terhadap sumber daya ekonomi, dan peningkatan kualitas lingkungan keluarga
• Pengembangan Pengetahuan dan Keterampilan Kewirausahaan melalui usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS) 
• Pengembangan cakupan dan kualitas kelompok Bina Keluarga bagi keluarga dengan balita, remaja dan lanjut usia.
Program pembinaan peran serta masyarakat dalam pelayanan KB/KBR yang mandiri
Program pengembangan pusat pelayanan informasi dan konseling KRR  
Program peningkatan penanggulangan narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS
Program pengembangan bahan informasi tentang pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak
Program penyiapan tenaga pendamping kelompok bina keluarga
Program pengembangan model operasional BKB-Posyandu-PADU
Program Keserasian Kebijakan Kependudukan
Program ini bertujuan menyerasikan kebijakan kependudukan yang berkelanjutan di berbagai bidang pembangunan baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah
Sasaran program adalah terwujudnya pembangunan berwawasan kependudukan dan pengintegrasian faktor kependudukan
Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut:
• Pengembangan kebijakan dan program pembangunan yang berwawasan kependudukan meliputi aspek kuantitas, kualitas, dan mobilitas
• Pengkajian perkembangan dan dinamika kependudukan di semua tingkat wilayah administrasi
• Pengintegrasian faktor kependudukan kedalam pembangunan sektoral dan daerah
Program Penataan Administrasi Kependudukan
Program ini bertujuan menata administrasi kependudukan dalam upaya mendorong terakomodasinya hak-hak penduduk dalam memperoleh hak dasar dalam perlindungan hukum dan rasa aman, tertib dalam administrasi penduduk
Sasaran program adalah terciptanya pengelolaan informasi kependudukan dan penataan kelembagaan administrasi kependudukan yang berkelanjutan
Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut:
• Pengelolaan Informasi Kependudukan dalam kerangka Sistim Informasi Administrasi Kependudukan.
• Pelayanan dokumen kependudukan secara efektif dan efisien.
• Penataan kelembagaan administrasi kependudukan yang berkelanjutan di daerah termasuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
• Peningkatan partisipasi masyarakat dalam bidang kependudukan.
KETENAGAKERJAAN 
Kondisi Umum
Tingkat pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2003 sebesar 12,34 persen. Pada tahun 2004 jumlahnya meningkat menjadi 13,75 persen. Dan pada tahun 2005 diharapkan turun menjadi sebesar 12 persen. Tingkat Partisipasi Angkatan kerja (TPAK) pada tahun 2003 sebesar 60,57 persen. Persentase ini bertambah menjadi 64 persen tahun 2004 dan menjadi 65 persen tahun 2005. 
Permasalahan ketenagakerjaan adalah kecenderungan meningkatnya jumlah pengangguran terbuka, menciutnya lapangan kerja formal di perkotaan dan di perdesaan, dan adanya indikasi menurunnya produktivitas di industri pengolahan.
Sasaran
Menurunnya tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2006 sebesar 11,50 persen, 11,0 persen tahun 2007, 10,50 persen tahun 2008, 10,00 persen tahun 2009, dan tahun 2010 sebesar 9,60 persen
Arah Kebijakan
Pembangunan Ketenagakerjaan Tahun 2006-2010, diarahkan pada upaya-upaya:
• Menciptakan kesempatan kerja melalui peningkatan investasi 
• Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja melalui peningkatan pelayanan pendidikan, kesehatan dan parasarana dan sarana pelatihan ketenagakerjaan.
• Mendorong pembaharuan program-program perluasan kesempatan kerja melalui pengembangan UKM, kredit mikro serta program pengentasan kemiskinan
• Mendorong perbaikan kebijakan yang berkaitan dengan migrasi tenaga kerja melalui program pendukung pasar kerja dengan mendorong terbentuknya informasi pasar kerja dan bursa kerja.
Program Pembangunan
Program Perluasan dan Pengembangan Kesempatan Kerja
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesempatan kerja produktif serta mendorong mobilitas tenaga kerja dalam rangka mengurangi penganggur dan setengah penganggur baik di perdesaan maupun di perkotaan
Sasaran program adalah terciptanya pasar kerja yang seluas-luasnya.
Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut:
• Mendorong penyempurnaan peraturan dan kebijakan serta program ketenagakerjaan
• Meningkatkan pemantuan dinamika pasar kerja dalam penciptaan lapangan kerja formal
• Melakukan koordinasi penyusunan rencana kerja dan informasi pasar kerja
• Peningkatan kerjasama antara lembaga bursa kerja dengan industri/perusahaan
• Pengiriman Tenaga Kerja ke Luar Negeri
Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja
Program ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan, keahlian, dan kompetensi tenaga kerja dan produktivitas
Sasaran program adalah terwujudnya standar kompetensi kerja dan penyelenggaraan pelatihan kerja berbasis kompetensi.
Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut:
• Mendorong pengembangan standar kompetensi kerja dan sistem sertifikasi kompetensi tenaga kerja
• Peningkatan program-program pelatihan kerja berbasis kompetensi
• Peningkatan relevansi dan kualitas lembaga pelatihan kerja
• Peningkatan profesionalisme tenaga kepelatihan dan instruktur latihan kerja
• Peningkatan sarana dan prasarana lembaga latihan kerja
• Pembangunan gedung latihan kerja
• Menyediakan sarana dan prasarana yng mendukung kegiatan kerja.
Program Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Tenaga Kerja
Program ini bertujuan untuk menciptakan suasana hubungan kerja yang harmonis antara pelaku produksi melalui peningkatan pelaksanaan hubungan indusrial yang merupakan sarana untuk mempertemukan aspirasi pekerja dengan pemberi kerja.
Sasaran program adalah terciptanya perlindungan dan peningkatan fungsi-fungsi lembaga-lembaga ketenagakerjaan.
Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut:
• Peningkatan pengawasan, perlindungan dan penegakan hukum ketenagakerjaan
• Peningkatan fungsi lembaga-lembaga ketenagakerjaan
• Penyelesaian permasalahan industrial secara ideal, konsisten, dan transparan
• Mendukung tindaklanjut pelaksanaan Rencana Aksi Nasional (RAN) penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (Keppres RI No. 59/2002)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar